Samalona; Aku dan Kalian (Bagian 1)

Kamis, 11 Oktober 2012




“Kenangan-kenangan akan terlihat lebih indah ketika kita menggoreskan mereka dengan kata-kata di atas kertas. Kata-kata akan mewakili detail perasaan dan perwujudan abstrak dari apa yang telah kita alami.”


Dermaga Fort Rotterdam
Bunyi deburan ombak dan riak-riak air laut di bibir pantai Losari menghiasi Sabtu sore. Angin bertiup lembut, membelai, seakan-akan ikut menyelaraskan suasana. Tak ada hujan, panas pun tak sepanas hari-hari sebelumnya. Hari ini, cuaca betul-betul paham dengan apa yang kami akan lakukan: Doing the beautiful plan ever.

Matahari semakin condong ke Barat, sinarnya mulai temaram namun masih menyisakan kristal-kristal bercahaya ketika dipandang, artinya Ia masih ingin berbagi sinarnya meskipun hari telah sore.

“Kapal udah siap, silahkan kalian ke dermaga sebelah” Suara si awak kapal memecah kegaduhan kami. Kami langsung mengambil barang-barang dan berbondong-bondong ke dermaga sebelah.

“Hey, hey…yang lainnya disini saja, ada satu kapal disini”
 Suara awak kapal tersebut menghentikan langkahku dan beberapa teman lainnya.
“Kalian ke dermaga saja dan menunggu disana” Lanjutnya lagi

Aku, Ardillah, Amel, Ammandk dan beberapa teman lainnya menapaki dermaga kayu sepanjang 40-an meter menuju kapal kecil yang akan kami tumpangi ke pulau seberang. Kami merupakan kelompok yang terpisah dari teman-teman lainnya, kelompok yang dipatahkan niatnya untuk bergabung dengan teman-teman lainnya. Anggotanya pun 99 % laki-laki, menyisakan seorang cewek, Amelia. So pathetic :’( …

“ Udah dimana nich? Masih mau ikut atau tidak?” Amel berbicara di telpon dengan Guardiannya, Rakil.
“Tunggu, udah mau nyampe…”

 Sambil menunggu datangnya Rakil, kami beristirahat sejenak, menikmati indahnya laut pantai losari.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan teman-teman yang lainnya yang terpisah dengan kami di dermaga sebelah. Mungkin mereka lagi ber-hip-hip hura, taking pictures, rolling in the deep atau mungkin sedang saling tonjok satu sama lain. I totally had no idea about them.

Kurang lebih beberapa menit menunggu di atas dermaga, Amel’s guardian menampakkan batang hidungnya dari kejauhan. Dengan hati yang tak sabar, kami bersiap-siap menaiki kapal kecil yang akan mengantar kami ke pulau Samalona. Kapal tersebut mulai merapat di dermaga setelah doing test for moments.

Dari dermaga sebelah nampak kapal yang ditumpangi oleh teman-teman kami. Tak jauh beberapa meter dari belakang kapal tersebut, muncul kapal ketiga yang juga ditumpangi oleh teman-teman kami yang lainnya. Ternyata mereka semua doing fine. Tidak ada saling tonjok seperti yang ku kira, yang terjadi adalah having fun.

Aku dan teman-teman langsung menaiki kapal. Satu demi satu dari kami turun melalui dermaga dengan berhati-hati. Kapal tersebut akhirnya mulai menjauh dari dermaga, meninggalkan pantai losari, menuju beautiful island: Samalona.




Samalona The Awesome
Setelah 30 menit bersama deburan ombak dan terpaan angin laut Makassar, kami akhirnya tiba di pulau Samalona, pulau yang terkesan agak kecil namun menyimpan surga laut yang luar biasa. Kapal kecil kami mulai merapat di bibir pantai Samalona, disusul dua kapal lainnya yang ditumpangi teman-teman kami. Kedatang kami disambut oleh riakan laut pantai Samalona dan bunyi speedboat yang terdengar mendesing memecah kesunyian sore. Kami dan teman-teman lainnya turun dari kapal, tak sabar merasakan halusnya pasir pantai Samalona.

“Yuk befoto….”
“Yuuukkk…” Teman-teman besorak.

Sambil menurunkan our stuffs, kami mulai berfoto-foto dengan berbagai macam gaya. Berfoto bareng, ada juga yang berfoto sendiri. Benar-benar kamseupay. Kami terlihat seperti orang yang tidak pernah melihat pantai seindah Samalona.

Aku sebenarnya tidak terlalu merasa “gimana gitu” terhadap pulau Samalona. Toh in my city aku juga punya banyak pulau dengan pantainya  yang bisa disandingkan keindahannya dengan Samalona. Rumahku juga hanya beberapa meter jaraknya dari laut. Aku sudah terbiasa dengan laut dan pantai. Tapi yang perlu diketahui bahwa aku telah berpisah terlalu lama dengan hal-hal seperti itu. Sudah hampir setahun aku tak merasakan laut di daerahku because I stayed in Makassar. In short, Samalona akan mengobati rinduku. And I thought it was going to be amazing cuz we wud stay there for one night.

“300 ribu bisa tidak, bu?”
Masa’ 300 ribu, murah sekali itu. Kalian kan inginnya menginap sehari semalam. Tiga ratus ribu tidak mungkin.” Kata pemilik penginapan
Gimana kalo 350 ribu?”
“OK. Silahkan bawa barang-barang kalian ke penginapan saya.”

Setelah tawar menawar dengan waktu yang cukup lama, kami akhirya deal. Tiga ratus lima puluh ribu untuk sehari semalam. Harga penginapan di Samalona memang terbilang cukup mahal. Sebelum penawaran, pemilik penginapan bahkan menetapkan harga penginapannya lima ratus ribu. Busyet, she must be kidding. Mendengarnya saja nafasku udah hampir tertahan di tenggorokan. Aku tidak tahu apakah itu harga sebenarnya atau “harga tipuan”. Namun Alhamdulillah pemilik penginapan bisa diajak kompromi akan harga. Sehingga uang kami yang tersisa masih cukup digunakan untuk penginapan. Kami akhirnya membawa barang-barang kami ke penginapan yang jarak hanya beberapa meter dari pantai.

Di penginapan kami beristirahat sejenak dan merapikan barang-barang kami. Ada pula sebagian teman yang langsung kembali ke pantai. Se-kardus air mineral dibagikan untuk menyuap keletihan serta haus yang kami rasakan selama mengarungi perairan makassar hingga ke Samalona. Tak lupa pula kue sumbangan dari Bu “donatur” yang baik hati, Phank Dora. Benar-benar perfect.


Senja yang Berkilau
Sore itu pantai Samalona cukup ramai. Dimana-mana terlihat orang-orang tengah asyik menikmati indahnya pantai. Ada yang berfoto-foto, berenang, snorkeling, dan berjalan-jalan  dibibir pantai menikmati terpaan ombak laut. Ada pula yang memacu speedboatnya dengan bunyi gas yang menderu-deru namun cukup indah dinikmati. Suasana seperti ini adalah suasana yang betul-betul ditungggu oleh teman-temanku. Untuk apa lah pergi ke tempat indah seperti ini namun tidak menikmatinya. Let’s do it: Taking pictures. Apalagi untuk Ayuni temanku, cewek yang tak ingin kamera beranjak dari pandangannya, ini merupakan momen emas yang ia nanti-nantikan. Sore itu, everybody was taking pictures.

“Abdi, foto dulu e… Rini memanggilku.
“Iya, sebentar”.

Aku dan Ayuni menuju pantai dekat dermaga. Disana ada Tary, Rini, Eka Ag, Ade, Idul, Mawan dan Wansyach. Kami mulai berfoto-foto dengan berbagai macam gaya.
“Abdi, foto pake hp-ku.” Ade menyodorkan hp-nya.

Tary juga ikut menyodorkan hp-nya. OMG, emangnya aku fotografer. Setelah berfoto-foto ria, kami berpindah ke depan gerbang dermaga Samalona. Disana ada Ardillah dan teman-temannya. Berfoto-foto ria kembali berlangsung.

Senja semakin memudar. Kami pun terbagi dalam beberapa kelompok dan tersebar ke beberapa penjuru. Masing-masing mungkin mempunyai kesibukan tersendiri. Maklum, tidak semua dari kami saling mengenal. Beberapa dari kami ikut dengan membawa teman. Bahkan ada temanku yang membawa teman dan temannya tersebut membawa seorang teman juga. Layaknya lagu milik Iwan Fals “aku punya kawan, kawannya punya teman”. Hal itu bukanlah masalah bagi kami. Toh yang kami inginkan adalah mengajak teman sebanyak-banyaknya biar rame dan menyenangkan. Momen ini juga bisa saja menjadi ajang saling  kenal-mengenal dan silaturahmi.

Setelah beberapa saat berfoto-foto dan menikmati indahnya pantai, kami memutuskan untuk menunggu terbenamnya matahari di ufuk barat yang dalam bahasa Konjonya ”sunset”. Matahari sore itu memang terlihat telah mendekati jadwal untuk kembali ke peraduannya. Sinarnya mulai memudar mengikuti waktu yang seakan pergi meninggalkan kami. Sore itu kami betul-betul terbagi dalam kelompok yang lebih kecil lagi. Aku tidak tahu kemana gerangan perginya teman-teman lainnya. Aku, Mawank, dan Wansyach memutuskan untuk mengelilingi pulau. Kami mulai dari dermaga pulau Samalona menyusuri jengkal demi jengkal pantai Samalona.

Tak jauh dari dermaga nampak Syahrini PBI berjalan sendirian menikmati pantai. Syahrini, begitu aku memanggilnya. Kami pun bergabung bersamanya. Tak lama kemudian muncul Astanti, adik Syahrini.

“Syahrini, ku foto kau berdua nah
“Syahrini sama Ashanty” Celoteh adik Syahrini.

Aku mengangkat kamera dan mengabadikan pose kedua “pinang dibelah silet” tersebut. Setelah itu, Aku, Mawan, dan Wansah pergi meninggalkan mereka demi melanjutkan trip kami: “berpusing-pusing” di pantai Samalona.

Kami menapaki timbunan batu yang disusun sedemikian rupa laksana benteng pertahanan di bagian belakang pulau Samalona. Tak disangka kami menemukan segerombolan bidadari yang sedang berfoto ria disana, ada pula Jaka Tarub-nya. Nampak Lani, Amel, Anna, Uni, Eka, Fatma, Dilla, dan Idul sebagai juru kameranya sekaligus menjadi Jaka Tarub diantara mereka. Namun kali ini cerita Jaka Tarub dan Bidadari sungguh bertolak belakang dengan cerita aslinya. Disini, Jaka Tarub dimanfaatkan oleh para bidadari. Udah gitu, ceritanya terjadi di pulau Samalona, buka pulau Kayangan. Ckckck…Bidadari oh Bidadari. Kami pun bergabung dengan para bidadari tersebut hingga membuat cerita baru yang lebih aneh: “Bidadari dan Kawan-kawannya menikmati sunset di Samalona Island”. Betul-betul… Exaggerate.

bersambung ke "Samalona; Aku dan Kalian (Bagian 2)

Adelia, Aku, dan juga Korea

Rabu, 10 Oktober 2012



Jumat malam, pelataran kostku, Tabaria.


Tuk…tuk…tuk…

Pintu diketok.

“Abdi,…Abdi…”

Terdengar suara seseorang dari luar memanggil namaku. Suara itu begitu pelan, agak samar-samar. Aku tahu dan kenal suara itu, siapa lagi kalo bukan Adelia, si penyanyi yang selalu manggung di kamarku hingga larut malam, yang membanggakan dirinya bahwa ia punya suara setinggi awan. Sampai-sampai pendengarnya membludak hingga ke kamar tetangga. Betul-betul gigantic.

Adelia juga suka menjuri kami dan teman-teman ketika bernyanyi. “Suara kamu kok keluarnya lewat hidung, nggak bagus. Kamu merusak nada saja…”. OMG, temanku sampai berulang kali bernyanyi untuk memperbaiki suaranya. Itu adalah salah satu kasus dari penjuriannya. Ia kadang-kadang mengatakan bahwa ia sepatutnya disejajarkan dengan penyanyi-penyanyi papan atas seperti Once dan Sandi Sandoro. What??? Are you nuts?

Oh no. Kenapa Adelia yang menjadi topikku kali ini. No way. Bakalan memakan waktu tujuh hari tujuh malam jika kita ngomongin tentang Adelia secara keseluruhan. Let’s move then.

Adelia kembali mengetuk pintuku.

“Abdi, kamu belum tidur?”

“Masuk…” Jawabku pelan.

Kalo dilihat jawabanku, nyambung bangat ya. Hahaha. Tapi begitulah, dewasa ini bahasa semakin berkembang, register-register ataupun variasi bahasa juga banyak. Jika kita berpijak pada inti komunikasi maka tidaklah salah bahasa model apapun yang anda gunakan, yang penting si pendengar mengerti apa yang anda bicarakan. Bahasa kan arbitrer…, terserah kau ingin membuat bahasa model apapun.

Adelia membuka pintu dan masuk. Ia menyimpan tasnya begitu saja dengan gaya seperti orang yang kelelahan setelah kerja nonstop 24 jam.

“Kamu dari mana?”

“Dari rumahnya siswaku, di Antang” Jawabnya lirih.

“Eh, Idul kemana ya? Di rumah sebelah?” Adelia balik bertanya.

“Mmm…mungkin, karena tadi aku lihat dia keluar, tapi gak tau kemana.”

OK then, aku mau ke sebelah dulu.”

Aku cuma mengangguk dengan pandangan masih tertuju pada layar laptop. Aku sejak tadi menonton film di laptopku untuk membuang kegundahan dan keletihan. Kedatangan Adelia sebenarnya bisa dikatakan mengganggu ketenanganku. Tapi begitulah__sudah menjadi kebiasaan bagiku diganggu oleh Adelia yang biasanya datang tengah malam dan biasanya untuk tujuan konser di kamarku.

Adelia akhirnya meninggalkan kamar kostku menuju ke tetangga sebelah. Aku tidak tahu apa yang akan dibuatnya disana. Mungkin ia akan konser atau berceramah, atau bisa saja berpidato disana. Adelia bisa saja kujuluki “Macan Podium Kedua” setelah almarhum bapak angkatku. Karena jika ia telah “bercakap”, maka hati-hatilah, retorika bermadu dan beracunnya akan keluar.

Aku yang sejak tadi sibuk nonton film sebenarnya tidak begitu perduli dengan kedatangan Adelia kali ini. Aku sedang fokus menonton film. Itu alasannya. Dan kini, setelah keluarnya Adelia, aku bisa kembali lagi menonton filmku, film yang terkesan begitu lucu dan kadang-kadang membuat aku terkekeh-kekeh sendiri di kamarku.

Kurang lebih satu jam berlangsung, filmku end. Setelah mematikan laptop, aku mengambil bantal dan berbaring-baring sebentar sekedar untuk rehat sejenak. Belum beberapa menit berjalan, sayup-sayup kudengar namaku disebut seperti sebelumya, dengan suara yang sama.

“Abdi…Abdi…”

“Ia, masuk.”

Adelia menampakkan diri di depan pintu. Ternyata jadwal berpidatonya di rumah tetangga telah selesai. Kini Adelia kembali ke kamarku untuk membuat jadwal baru special untuk kamarku: berpidato lagi atau bisa saja membuat big concert. Tapi tidak begitu, ia malah berbaring dan berbagi cerita tentang siswanya di Antang.
Setelah begitu lama pembicaraan berlangsung, Adelia tiba-tiba kepingin konser. Aku langsung mengambil gitar yang selalu aku sandarkan di sudut kamarku dan mulai memetik senarnya, mengalunkan melodi-melodi yang menurutku tidak akan mengganggu siapapun karena malam telah beranjak jauh pergi.

Dari mulut Adelia, sayup-sayup terdengar lagu yang ia nyanyikan. Ia mulai bernyanyi…

“…Haneure bitnadon byori, Jo molli bitnadon byori, nemame neryowannabwa…”

Lagu yang tidak asing bagi Korean lovers saat ini mulai mengalun. Ya, siapa lagi yang tidak mengenal lagu tersebut. Lagu dari Kang Ming Hyuk, sekaligus lagu yang menjadi salah satu soundtrack film Heart String. Telingaku juga sudah tidak asing dengan lagu tersebut, apalagi lidahku. Lagu tersebut yang selalu kunyanyikan ketika gitar telah berada dirangkulanku. Am I Korean lover? Dunno.

Aku memetik gitar, memainkan nada lagu yang dinyaikan Adelia tersebut. Dan….

“OK, aku nyanyikan, kamu petik gitarnya ya”

Adelia mulai bernyanyi-nyanyi.

“Wah keren bangat ya.” 

“Aku bakalan nyanyiin lagu ini dihadapan fatma dan membuatnya ternganga dan tergelepak-gelepak.” Kata Adelia.

Aku yang sedang memaikan gitar sengaja membuat batuk gadungan dan tersenyum-senyum ketika mendengar pernyataan Adelia tersebut. Aku bukannya menganggap remeh Adelia. Aku hanya menganggap pernyataan itu sedikit konyol.

Hmm…tapi ada yang lebih aneh lagi, tau nggak? Masa ADELIA naksir FATMA? Hahaha. That was joke. Adelia bukanlah Adelia. Adelia adalah seorang pesilat sejati yang bahkan pernah menyabet medali perak dalam kejuaraan Pencak Silat Nasional tingkat universitas se-Indonesia.

Kami terus menyanyikan lagu dari Kang Ming Hyuk tersebut. Konser malam ini betul-betul terjadi. Karena tertarik akan lagu tersebut, Adelia bahkan menyuruhku berulang-ulang memetik gitar untuknya. Adelia juga juga memintaku untuk mengajarkan chords lagu tersebut. Adelia seperti telah terkena salah satu virus dari sejuta virus Korea yang lebih berbahaya yang tersebar di benak-benak para remaja Indonesia saat ini.

Aku tidak tahu mengapa Adelia berpikiran untuk menyanyikan lagu Korea padahal sebelumnya ia adalah salah satu dari sekian orang yang anti band Korea yang ada di Sulawesi Selatan ini. “Apa itu Band Korea, suaranya semua tipikal, nyanyinya lewat hidung. Come on, penyanyi macam apa itu, ndag berkualifikasi…”. Aku masih ingat betapa bencinya Adelia terhadap penyanyi atau Band Korea beberapa saat yang lalu. Kini Adelia berubah.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa pengaruh Korea memang luar biasa. Orang kadang-kadang menyebutnya “demam korea”. Olehnya itu saya menamakannya virus, karena cara penyebarannya dan efeknya seperti virus.

Adelia bisa saja punya alasan tersendiri mengapa ia bisa terjakit virus korea seperti mengikuti trend, tertarik, dan lain-lain. Aku tidak tahu. Aku juga mungkin salah seorang yang telah terjangkit virus Korea. Tapi yah, kalo dipikir-pikir ada untungnya juga ya aku kenal dengan Korea. Hahaha… I can’t tell you.

Went To Maros : Part 1





Di depan kamar mandi, di sebuah baskom berwarna hijau tua, nampak tumpukkan pakaianku yang telah selesai kucuci beberapa menit sebelumnya. Di samping baskom, aku berdiri sambil mengusap sedikit peluh di sekitar wajahku yang menampakkan ekspresi keletihan setelah berkutat dengan pakaian-pakaianku. Hari ini aku terlihat lebih semangat dari hari-hari sebelumnya, jadwal mencuci mengalami perubahan_lebih awal dari biasanya. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ya, of course

Selang beberapa menit, sayup-sayup nada dering handphone terdengar dari dalam kamarku. Tak salah lagi, itu nada dering pesanku…

“datte anata itta janai..namidagoe utsumuita mama..uso mo tsukenakunattara..ikite yukenakunaruyo to….”

Lagu YUI semakin jelas terdengar dari dalam kamarku, menandakan bahwa ada pesan/sms yang masuk di handphoneku. Aku langsung ke kamarku mengecek sms tersebut.

“1 Message Received, Pbi Ammank”

Kubuka pesannya…

“Sorry Bro, aku kayaknya’ nggak’ bisa ikut ke Bantimurung. Aku lagi ‘nggak’ enak badan…” (bahasa sms telah dirubah ke dalam bahasa Indonesia).

Air mukaku yang sejak tadinya cerah, perlahan-lahan berubah menjadi redup, menyadari bahwa ini benar-benar little bad news today.

“OMG, berarti aku juga nggak bisa ke Bantimurung…”

Setahuku, Ammank merupakan satu-satunya tumpanganku ke Maros dan Bantimurung, so jika Ammank tidak bisa ikut, maka aku pun harus membatalkan keinginanku untuk pergi ke Bantimurung. Plan yang sejak kemarin telah terpatri rapi dalam pikiran hingga memaksaku mencuci pakaian lebih awal hari ini, kini harus batal.

“Biarlah, lagipula hari ini badanku agak sedikit tidak fit. Aku terserang flu. Setidaknya aku bisa beristirahat hari ini, menjaga kondisiku hingga kembali membaik.” Imbuhku dalam hati.

Dengan langkah yang terlihat seperti bermalas-malasan dan sedikit gontai, aku segera keluar kamar untuk menjemur pakaianku, kemudian bergegas mandi. Sehabis mandi aku hanya berdiam diri di kamar, memikirkan apa yang harus dilakukan hari ini setelah tertundanya big plan-ku.

“Abdi… Abdi…” 

Seseorang memanggilku dari kamar sebelah, kamar milik temanku, Idul dan Tadir. Suara yang tak asing lagi di telingaku, namun suara itu bukan suara Idul maupun Tadir. Jelaslah, suara itu milik Wansah, ‘Ariel Peterpan Gadungan’ di kelasku. Begitulah julukan teman-teman kelas padanya. Ia juga menjuluki dirinya ‘Chengenk Ozil Madridista’.

“Iyaa… Kenapa?” Aku menjawab pelan.

Nggak ikut ke Bantimurung? Tadi aku udah sms-an sama Ammank, katanya Ia jadi ikut..”

Lho, katanya tadi Ia sakit…?$@?”

“ Ia lagi on the way kesini.” Lanjut Wansah.

Akhirnya plan hari ini tidak batal. Perasaan murung yang tadinya menggelutiku kini telah sirna. Hari ini kembali terasa begitu menyenangkan. Kondisiku serasa berubah menjadi benar-benar prima. Sesaat kemudian dari depan kost terdengar bunyi motorcycle  yang menderu-deru, Ammank akhirnya menampakkan batang hidungnya. Jika meminjam salah judul acara televisi, maka akan ku katakan “Akhirnya Datang Juga”. The dream really comes true. Kita akan berangkat!

Seperti kesepakatan kami sebelumnya bahwa kami semua akan berkumpul di Kampus 1 UIN Alauddin pada pukul 10.00, kemudian berangkat bersama ke Maros. Setelah semuanya udah siap, aku, Ammank, Ozil dan Idul beranjak meninggalkan kos, menuju kampus 1.

Nampak gerbang kampus 1 UIN Alauddin begitu ramai, terutama di pelataran gedung “Training Centre”.....bersambung

Deppa Nasau Peddiku

Selasa, 09 Oktober 2012



Malam ini, setelah shalat magrib, tidak tahu angin apa yang datang, aku tiba-tiba kepingin memutar lagu “Depa Nasau Peddiku”, yang mungkin penyanyinya kalo gak salah Dewi Kaddi. Kuhidupkan laptopku, menunggu windows loading, menyorot folder “Music” melalui pointer mouse, dan segera kucari lagu Depa Nasau Peddiku. Aku memutarnya.

Alunan music bergenre pop-rock Malaysia itu mengalun merdu dengan volume yang tidak begitu besar, bahkan bisa dikatakan hanya aku sendiri yang bisa mendengarnya di kamar kosku__aku hanya tidak ingin membuat keributan di waktu magrib menjelang isya.

Sekali lagi, aku tidak tahu alasan yang tepat mengapa aku ingin memutar lagu itu. Menghilangkan stress? Bukan, lagu-lagu penghilang stessku biasanya lagu barat. Untuk sekedar menghibur diriku? Bukan juga tuh.

Tapi sebenarnya, dibalik semua itu, lagu tersebut betul-betul membuat kenangan yang hampir tidak bisa kulupakan. Ketika malam ini kudengar, perasaanku seakan beranjak kembali ke masa silam__3 tahun yang lalu, ketika aku pertama kali berada di Bis untuk perjalanan yang begitu panjang: Makassar – Luwuk. Perjalanan panjang yang melewati beberapa daerah__Makassar-Pare-pare-Palopo-Barru-Mangkutana, hingga ke daerah perbatasan (itu rutenya kalo gak salah). Dan, My God, I couldn’t even sleep in Bus. Really pathetic, isn’t it? Aku merasakan penderitaan naik Bis untuk perjalanan panjang saat itu, ditemani oleh lagu Depa Nasau Peddiku tadi yang selalu dialunkan oleh salah satu penumpang bus. Akhirnya lagu tersebut benar-benar bersemayam di long term memoriku, tertoreh bersama kisah perjalanan panjang di bis.

Lho kok mau naik Bis, mau tersisksa di Bis… Orang-orang kapitalis sepertiku memang selalu berprinsip ekonomi yang bisa dikatakan payah. Daripada lewat pesawat yang tiketnya agak mahal, mending I try to go by Bus. Aku memang kadang-kadang berfikir, daripada membuang-buang uang untuk hal yang bisa kita lakukan dengan cara lain, mending coba cara lain tersebut. Benar-benar cara yang “aneh”. Memanfaatkan sesuatu sebaik-baiknya… Hahahaha.

Back to that song, sebenarnya aku tidak tahu sama sekali arti dari lirik lagu tersebut, of course pesan dari lagu tersebut juga tidak. Tapi, aku benar-benar tertarik ketika pertama kali aku mendengarnya. Mungkin karena musiknya yang sedikit nge-rock, atau mungkin suara penyanyinya yang begitu powerful. I have no idea about that. Bisa saja soal musiknya, karena kebetulan aku baru saja melepas masa SMA, masa remaja yang penuh dunia seni dan music khususnya bagi diriku.

Berbicara tentang arti dari lagu tersebut, If I may guess (meminjam kata-katanya kak Ida), lagu tersebut terkesan begitu sedih. Terdengar dari cara penyanyinya menyanyikan lagu, intonasi dan nada yang dimainkan: sedih. Itu menurut perkiraanku. Sampai sekarang, aku bahkan belum tahu arti dari judul lagu tersebut, “Depa Nasau Peddiku”. Betul-betul, bahasanya orang. Memang perlu dipelajari. 

Aku yang sudah tinggal beberapa tahun di Kota Daeng, tidak mengerti akan bahasa Bugis, Makassar pula. Mungkin hanya beberapa kata saja yang aku kuasai dan aku tidak bisa menjamin kalau itu melebihi dari duapuluh kosakata. Poor me. Bahkan, kemarin aku sempat terlibat percakapan dengan temanku di facebook__komen-mengkomen. Di salah satu status temanku, seorang temanku membalas komenku menggunakan bahasa Bugis. Katanya, “Dentoku se’ding”. Aku jadi bingung, namun aku sempat bertanya pada salah seorang temanku yang juga orang Bugis, ia menjelaskan artinya dan aku minta bantuannya untuk membalas komen tersebut. Ia hanya berkata “ bilang saja mapaku metto”. Oh My God!  Aku sempat Tanya, gimana cara nulisnya tapi ia hanya mengucapkannya saja. Lantas akupun menuliskan kata-kata tersebut sesuai apa yang kudengar. Dan aku tulis “ma’paku metto”. Dan apa yang terjadi kemudian? Temanku malah tambah bingung dengan komenku. “Ma’paku”. Hahahahaha. Hingga akhirnya aku menghapus komen tersebut. Betul-betul bahasanya orang.

Depa nasau peddiku, lagu yang berkesan bagiku namun aku tidak mengetahui apa sebenarnya isi lagu tersebut. Begitulah sebuah lagu, kita bisa saja terkesan akan musiknya atau nadanya, penyanyinya, bisa juga terkesan akan isi pesan dari lagu tersebut. Namun bagiku, sekalipun aku tidak mengetahui arti dari lagu Depa Nasau Peddiku, namun kayaknya aku tersentuh dengan lagu tersebut. Aku berharap suatu saat aku akan tahu artinya dari lagu tersebut. Aku juga berharap bisa mempelajari bahasa Bugis dan Makassar. I hope someone will teach me.